BEKABAR.ID, JAMBI - Komitmen Gubernur Jambi Al Haris untuk memperbaiki jalan di Ranah Pemetik pada 2026 kini menghadapi ujian paling mendasar, ketersediaan anggaran. Di atas kertas, janji itu terdengar tegas. Di lapangan, jejaknya nyaris tak terlihat.
Penelusuran pada dokumen anggaran
menunjukkan satu hal yang janggal. Pada Bidang Bina Marga Dinas PUPR Provinsi
Jambi, tak ditemukan pos khusus untuk pembangunan jalan Ranah Pemetik pada
tahun 2026. Kekosongan ini menjadi kontras dengan pernyataan pemerintah yang
berulang kali menyebut proyek tersebut sebagai “prioritas”.
Kalaupun ada celah, sumber
internal menyebut kemungkinan anggaran disisipkan dalam kegiatan tanggap
darurat UPTD Alkal, Unit Pelaksana Teknis Daerah yang menangani alat dan
perbekalan. Namun skema ini problematis sejak awal. Anggaran tanggap darurat
bersifat terbatas dan umumnya digunakan untuk perbaikan minor, bukan
pembangunan atau peningkatan jalan skala besar.
Sementara itu, kondisi jalan
Ranah Pemetik jauh dari kategori “minor”. Untuk menghasilkan dampak signifikan,
kebutuhan anggaran ditaksir menembus lebih dari Rp10 miliar. Angka yang sulit
ditampung dalam pos darurat dengan kapasitas terbatas.
Di titik ini, narasi pemerintah
mulai tampak retak. Pernyataan “prioritas 2026” berdiri tanpa fondasi fiskal
yang jelas. Yang tersisa adalah kemungkinan bukan kepastian.
Sementara, Salah seorang aktivis
Jambi, Mario Ananda mengingatkan langsung Gubernur Jambi Al Haris agar tidak
lagi mengumbar janji tanpa realisasi. “Jangan bohong wo, jangan lagi bohongi masyarakat dengan
janji-janji yang tidak punya dasar anggaran yang jelas. Warga ini sudah terlalu
sering diberi harapan palsu,” kata Mario, Minggu (04/05/26).
Ia menegaskan, persoalan jalan
Ranah Pemetik bukan isu baru, melainkan masalah lama yang terus berulang dengan
pola yang sama, janji, perencanaan, lalu hilang tanpa kepastian.
“Kalau memang tidak ada anggaran,
sampaikan apa adanya. Jangan seolah-olah ini prioritas, tapi di dokumen resmi
saja tidak tercantum. Itu namanya menyesatkan publik,” ujarnya.
Menurut Mario, kejujuran
pemerintah jauh lebih penting ketimbang retorika pembangunan. Ia mengingatkan
bahwa dampak dari janji yang tak ditepati dirasakan langsung oleh masyarakat
kecil, terutama petani yang bergantung pada akses jalan.
“Yang dirugikan itu masyarakat.
Petani tetap bayar ongkos mahal, hasil panen ditekan harga, sementara
pemerintah sibuk dengan istilah ‘persiapan akhir’. Akhir yang mana?” katanya.
Ia pun meminta Al Haris berhenti
mengulang pola lama yang hanya memperpanjang ketidakpastian. “Kalau serius,
buktikan dengan kerja nyata. Kalau tidak mampu, jangan terus berjanji.
Masyarakat sudah cukup sabar, jangan uji kesabaran itu dengan kebohongan yang
berulang,” ucap Mario.
Asal tahu saja, hampir setahun
lalu, dalam agenda Pertisun di Kerinci, Al Haris berdiri di hadapan warga dan
mengucapkan janji yang kini kembali dipertanyakan. Ia mengaitkan pembangunan
jalan dengan agenda besar nasional, bahkan menyebut dukungan terhadap program
Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam membuka akses ekonomi daerah.
Retorika itu kini berhadapan
dengan realitas administratif. Hingga awal April 2026, pemerintah daerah masih
berkutat pada tahap “persiapan akhir” fase yang mencakup survei dan rencana
mobilisasi alat.
Di Ranah Pemetik, waktu berjalan
dengan ritme berbeda. Jalan tetap berlumpur saat hujan, berdebu saat kemarau.
Biaya angkut hasil tani tak kunjung turun. Petani tetap menanggung selisih
harga yang tergerus ongkos distribusi.
Janji yang dulu membangkitkan
harapan, kini berulang sebagai pola. Dimulai dari komitmen, bergeser ke
perencanaan, lalu berhenti di administrasi. Siklus ini bukan hal baru dalam
pembangunan infrastruktur daerah.
Editor: Sebri Asdian


