BEKABAR.ID, KERINCI - Jambore Kwartir Cabang Pramuka Kabupaten Kerinci 2026 yang digelar di Lapangan Sepak Bola Desa Lubuk Nagodang, Kecamatan Siulak, semestinya menjadi ruang belajar tentang disiplin, solidaritas dan kesiapsiagaan. Namun yang tampak pada Jumat (15/5/2026) justru sebaliknya, ketika peserta tumbang, petugas kesehatan seperti lenyap dari lokasi kegiatan.
Petugas kesehatan yang sebelumnya berjaga disebut sudah tidak lagi berada di arena jambore sejak Kamis (14/5/2026) malam, padahal kegiatan masih berlangsung.
Anak-anak masih berkegiatan, risiko masih
ada. Tapi petugas kesehatan malah tak terlihat.
Akibatnya, saat peserta mulai
sakit, panitia dan pendamping pontang-panting sendiri.
Sofia, siswi kelas 1 SMP asal
Siulak Mukai, dilaporkan mengalami sesak akibat asma setelah kelelahan
mengikuti kegiatan. Ia sakit sekitar pukul 17.00 WIB. Tidak ada ambulans. Tidak
ada petugas medis yang siaga. Yang ada hanya kepanikan dan mobil pribadi untuk
membawanya ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, Yuda, bocah 9
tahun, ikut tumbang. Anak itu disebut mengalami gangguan usus akibat kelelahan.
Nasibnya lebih miris. Ia dibawa ke rumah sakit menggunakan sepeda motor.
Sebuah kegiatan besar yang
melibatkan anak-anak, namun urusan paling dasar, layanan kesehatan justru
seperti dianggap pelengkap administrasi.
Padahal sumber mengungkapkan kepada bekabar.id bahwa panitia sudah menyurati Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci agar
menyiapkan tenaga medis selama kegiatan berlangsung. "Surat ada, kegiatan jalan, peserta banyak, tapi saat kondisi darurat muncul, petugas kesehatan entah ke
mana," celutuk dia, Jumat (15/5/2026).
"Ini bukan sekadar soal peserta
yang sakit. Ini adalah kelalaian dalam membaca risiko," tambahnya.
Dia menyebutkan, kegiatan luar ruang dengan
aktivitas fisik tinggi selalu punya potensi kedaruratan, terlebih jika pesertanya ada anak-anak. "Mestinya tenaga kesehatan berjaga penuh sampai kegiatan selesai,
bukan datang sekadar formalitas pembukaan lalu hilang saat dibutuhkan," keluhnya.
Yang membuat keadaan terasa lebih
ironis, lanjut dia, Pramuka selama ini selalu bicara tentang kesiapsiagaan, kedisiplinan,
dan kepedulian. "Tapi di lapangan, ketika peserta tumbang, justru pendamping
yang dipaksa menjadi sopir dadakan, ambulans darurat, sekaligus penanggung
jawab keselamatan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Kerinci belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi
terkait tidak adanya petugas kesehatan di lokasi kegiatan pada Jumat. Diamnya
dinas kesehatan membuat pertanyaan makin besar, apakah keselamatan peserta
memang tidak masuk prioritas?
Editor: Sebri Asdian


