BEKABAR.ID, KERINCI - Kabar kemunculan beruang di Desa Sanggaran Agung, Kecamatan Danau Kerinci, sempat memunculkan satu pertanyaan, apakah kebun milik salah seorang warga itu berada dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), namun dugaan itu dipatahkan di lapangan.
Tim Balai Konservasi Sumber Daya
Alam (BKSDA) Jambi memastikan lokasi penampakan beruang yang diketahui kebun
milik warga itu berada di luar dan cukup jauh dari kawasan konservasi tersebut.
Jaraknya diperkirakan mencapai 4,5 kilometer dari batas TNKS. Sebuah angka yang
menurut petugas tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan pergerakan langsung
dari kawasan taman nasional.
Verifikasi itu dilakukan pada
Senin, 27 April 2026. Tim yang dipimpin Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Udin
Ikhwanuddin, turun bersama aparat kepolisian, satu perwakilan pemerintah desa dan
warga setempat. Mereka menyisir titik yang sebelumnya viral di media sosial.
Di lokasi, beruang memang tak
lagi terlihat. Namun jejaknya tertinggal. Cakaran segar di batang pohon Suryan dan
sebuah pondok kebun menjadi penanda bahwa satwa itu benar sempat berada di
kebun warga. “Secara lokasi, ini bukan wilayah TNKS. Jaraknya sekitar 4,5
kilometer,” ujar Poltak, anggota tim BKSDA yang ikut dalam pengecekan lapangan.
Saat itu BKSDA sendiri menilai
situasi di Sanggaran Agung belum masuk kategori konflik. Interaksi langsung
antara beruang dan manusia masih rendah. Karena itu, pendekatan yang diambil
bukan penangkapan, melainkan pengawasan dan pencegahan.
“Risikonya masih kecil. Kami
belum melihat urgensi pemasangan perangkap,” kata Udin Ikhwanuddin.
Sebagai langkah awal, BKSDA
menggelar sosialisasi kepada warga tentang cara menghadapi beruang, sekaligus
membagikan petasan sebagai alat pengusir. “Upaya ini ditujukan untuk menjaga
jarak aman antara manusia dan satwa tanpa harus mengganggu keberadaan beruang
di alam liar.” Kata dia.
Di sisi lain, aparat kepolisian
tetap membuka opsi penanganan lebih tegas jika situasi berubah. Kapolsek Danau
Kerinci, IPTU Arisman, menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas. “Namun
setiap langkah harus melalui kajian,” ucap dia.
Pada kesempatan yang sama, M. Taufik salah seorang warga Desa Sanggaran Agung menyambut baik langkah yang diambil oleh BKSDA Jambi dan pihak kepolisian. "Kami merasa lebih tenang setelah adanya sosialisasi dan pemantauan dari tim BKSDA. Kami memang sempat khawatir dengan adanya beruang di sekitar kebun, namun dengan adanya petasan dan informasi yang diberikan, kami merasa lebih siap untuk menghadapi situasi seperti ini," ujarnya.
Warga lainnya, Ari berharap agar
BKSDA terus memantau keberadaan beruang ini. Meskipun belum ada kejadian buruk,
dia merasa lebih aman jika ada langkah-langkah preventif seperti ini.
"Harapan kami, beruang itu bisa dijaga di habitatnya tanpa mengganggu
aktivitas kami di kebun. Karena hingga saat ini, beruang itu telah banyak
mengganggu tanaman para petani seperti nangka, jengkol serta tanaman lainnya. Jika
interaksi negatif beruang tersebut tinggi, tentu kami minta beruang segera
dijerat, agar dampaknya tak meluas," demikian kata dia.
Editor: Sebri Asdian


