Berdasarkan data di lapangan, harga cabai yang dijual petani ke gudang penampungan hanya berkisar antara Rp16 ribu hingga Rp18 ribu per kilogram. Sementara itu, harga di tingkat pedagang eceran berada pada kisaran Rp20 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram.
Muhammad Amin, salah seorang petani cabai di Kerinci, mengatakan harga tersebut jauh dari kata layak jika dibandingkan dengan biaya perawatan yang terus meningkat. Ia menyebut, petani kini berada dalam posisi merugi.
“Kalau harga seperti ini, kami jelas rugi. Biaya pupuk mahal, obat-obatan juga naik, belum lagi ongkos angkut. Tidak sebanding dengan harga jual,” kata Amin, Sabtu.
Keluhan serupa disampaikan Ari, petani lainnya. Ia menilai anjloknya harga cabai tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga mengancam keberlanjutan usaha tani yang selama ini menjadi sumber utama penghidupan warga.
“Sekarang ini petani menjerit. Modal besar, tapi hasilnya tidak menutup biaya. Kalau terus begini, banyak yang bisa berhenti menanam cabai,” ujarnya.
Dia berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga sekaligus mencari solusi jangka panjang, termasuk pengendalian distribusi dan dukungan terhadap biaya produksi. "Tanpa intervensi yang jelas, fluktuasi harga dinilai akan terus merugikan petani sebagai pihak paling rentan dalam rantai pasok komoditas tersebut," tukasnya.
Editor: Sebri Asdian
Harga Cabai Anjlok, Petani Kerinci Menjerit
Petani sedang menyortir cabai sehabis panen. Foto: Sebri Asdian BEKABAR.ID, KERINCI — Harga cabai di tingkat petani di Kabupaten Kerinci mengalami penurunan tajam dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memicu keluhan dari petani yang mengaku tidak mampu menutup biaya produksi akibat harga jual yang terlalu rendah.


