Kemarau Kali Ini Tak Bikin Air Danau Kerinci Menyusut, Fenomena Awal 2026 Kembali Disorot

Kemarau Kali Ini Tak Bikin Air Danau Kerinci Menyusut, Fenomena Awal 2026 Kembali Disorot

BEKABAR.ID, KERINCI - Fenomena penyusutan air Danau Kerinci yang sempat menghebohkan warga pada awal 2026 kembali menjadi sorotan.

Pasalnya, di tengah kondisi kemarau yang masih dirasakan di wilayah Kerinci, permukaan air Danau Kerinci kali ini justru terpantau relatif normal.

Kondisi tersebut dinilai menarik karena pada awal tahun, permukaan air danau sempat menyusut drastis hingga sejumlah bagian tepian danau terlihat mengering.

Berdasarkan catatan KKI Warsi, luas muka air Danau Kerinci menyusut sekitar 70 hektare dalam waktu kurang dari satu tahun. Luas muka air yang tercatat 4.516 hektare pada April 2025 turun menjadi 4.445 hektare pada 28 Februari 2026. KKI Warsi mengaitkannya dengan ketidakseimbangan tata air atau fluktuasi hidrologis ekstrem di kawasan DAS Danau Kerinci.

Sementara itu, pada Februari 2026, Gubernur Jambi Al Haris sebelumnya menyebut minimnya curah hujan sepanjang Januari menjadi salah satu faktor penyusutan air danau. Di sisi lain, BWSS VI Jambi pada Januari menyebut penurunan elevasi muka air juga berkaitan dengan uji coba turbin PLTA Kerinci Merangin Hidro yang berlangsung pada 1-16 Januari 2026.

Kini, kondisi air danau yang kembali terlihat normal di tengah kemarau menjadi pertanyaan tersendiri bagi masyarakat.

Syafii, salah seorang warga Kerinci, menilai kondisi tersebut menunjukkan penyusutan drastis yang terjadi pada awal tahun tidak bisa begitu saja disimpulkan hanya akibat faktor cuaca.

“Dihantam kemarau berkepanjangan, air Danau Kerinci kali ini terpantau normal. Berbeda dengan awal tahun 2026 kemarin, air danau menyusut drastis dan membuat heboh berbagai kalangan,” kata Syafii, Selasa (25/08/26).

Menurut dia, perbandingan kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi untuk mencari penyebab sebenarnya dari penyusutan air yang terjadi pada awal tahun.

“Artinya, pengaruh faktor cuaca dalam penyusutan bisa dikatakan sangat minim. Jadi salah kita kalau mengatakan faktor cuaca yang menyebabkan air danau menyusut secara drastis,” ujarnya.

Meski demikian, lanjut dia, kesimpulan mengenai penyebab penyusutan tentu membutuhkan kajian dan data hidrologi yang lebih lengkap. "Terlebih, sejumlah faktor sebelumnya memang sempat dikaitkan dengan fenomena tersebut, mulai dari curah hujan, kondisi tata air DAS hingga operasional PLTA," jelasnya.

Bagi Syafii, kondisi Danau Kerinci saat ini justru menjadi momentum untuk menjawab pertanyaan yang sempat muncul di tengah masyarakat, apa sebenarnya yang menyebabkan air danau menyusut drastis pada awal 2026?

Ia berharap pemerintah dan instansi terkait tidak berhenti pada dugaan, tetapi melakukan pemantauan serta kajian secara menyeluruh terhadap kondisi Danau Kerinci.

"Dengan begitu, masyarakat tidak lagi hanya mendapatkan penjelasan berdasarkan asumsi, melainkan data yang mampu menjelaskan perubahan muka air danau dari waktu ke waktu," tukasnya.

Editor: Sebri Asdian